
Bagaimana kalau sebuah alat makan plastik tiba-tiba membuka mata, mengangkat tangan merahnya, lalu bertanya mengapa pensil warna semakin pendek setiap kali dipakai? Forky pasti sanggup membuat pertanyaan seaneh itu terdengar sangat penting. Dalam gambar Forky dari Toy Story 5 untuk diwarnai dan dicetak ini, anak-anak dapat mengenali bagian-bagian unik yang membentuk tubuhnya, memilih warna yang sesuai dengan penampilan aslinya, lalu menambahkan ekspresi dan cerita buatan sendiri.
Forky berbeda dari kebanyakan mainan di kamar Bonnie. Ia tidak memakai pakaian, sepatu bot, helm, atau aksesori rumit. Tubuhnya berasal dari sebuah spork plastik, yaitu alat makan yang bentuknya memadukan sendok dan garpu. Dua matanya tidak sama besar, mulutnya berwarna biru, pipinya merah muda, sedangkan tangannya dibuat menyerupai kawat bulu merah yang dipelintir. Bentuk yang tidak simetris justru menjadi bagian penting dari penampilannya.
Karena tubuh Forky berwarna putih, anak tidak perlu memenuhi seluruh bagian tengah dengan warna. Putih dari kertas sudah dapat mewakili permukaan plastiknya. Agar bentuk tubuh tidak menyatu dengan latar belakang, tambahkan bayangan abu-abu muda pada salah satu sisi. Pensil biru sangat muda juga dapat dipakai untuk memberi kesan pantulan cahaya. Warna tersebut hanyalah teknik menggambar, bukan warna baru dalam desain resmi Forky.
Anak yang baru mulai belajar mewarnai boleh langsung mengerjakan bagian wajah. Mulut biru, pipi merah muda, alis merah, dan kedua lengan merupakan bidang yang mudah ditemukan. Setelah bagian-bagian itu selesai, Forky sudah terlihat jelas meskipun tubuh putihnya dibiarkan kosong. Cara ini cocok untuk kegiatan singkat di rumah, di sekolah, atau saat anak ingin menyelesaikan gambar tanpa harus mengisi bidang yang terlalu luas.
Wajah Forky dapat berubah hanya dengan memindahkan arah pupilnya. Jika kedua pupil menghadap ke atas, ia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Jika satu mata melihat ke kiri dan yang lain ke kanan, ia tampak kebingungan menghadapi dunia di sekitarnya. Anak juga dapat menggambar kedua pupil mengarah ke sebuah benda di luar tubuh Forky, misalnya penghapus, buku gambar, atau kotak pensil yang ditambahkan di sampingnya.
Mencetak dua salinan akan membuat permainan ekspresi lebih seru. Pada lembar pertama, Forky dapat terlihat gembira. Pada lembar kedua, ubah arah mata, bentuk alis, atau lengkungan mulut agar ia tampak terkejut. Tidak perlu mengubah seluruh gambar. Tiga bagian kecil itu sudah cukup untuk menunjukkan betapa kuatnya ekspresi sebuah karakter.
Alis merah Forky memiliki bentuk yang menyerupai huruf V. Anak yang lebih kecil dapat mengikuti garis yang sudah tersedia dan mengisinya dengan satu warna merah. Anak yang lebih terbiasa menggambar bisa mencoba merah tua pada bagian bawah dan merah terang pada bagian atas. Bayangan sederhana ini memberi kesan bahwa alis tersebut memiliki bentuk dan tidak hanya menempel datar pada tubuh plastik.
Mulut birunya dapat diwarnai menggunakan pensil warna, krayon, atau spidol. Pensil warna lebih mudah dikendalikan pada bagian sempit. Krayon menghasilkan tekstur yang lembut, sedangkan spidol memberi warna biru yang lebih kuat. Jika kertas yang digunakan tipis, letakkan selembar kertas kosong di bawah gambar agar tinta tidak mengenai meja.
Pipi merah muda dapat diisi dengan gerakan memutar yang kecil. Bagian tengahnya boleh dibuat sedikit lebih pekat, lalu warna dipudarkan ke arah tepi. Kedua pipi tidak harus terlihat sama persis. Forky dibuat seperti hasil prakarya anak, sehingga perbedaan kecil justru membuatnya terasa lebih alami.
Bagian atas tubuh Forky memiliki ujung-ujung bulat yang menyerupai gigi garpu. Anak bisa mengikuti setiap lengkungan satu per satu sambil memutar kertas agar tangan lebih nyaman. Gerakan pendek biasanya lebih mudah dikontrol daripada satu garis panjang. Kegiatan ini membantu melatih ketelitian tanpa membuat proses mewarnai terasa seperti tugas yang terlalu serius.
Tangan Forky merupakan bagian yang menarik untuk diberi tekstur. Dalam penampilan yang dikenal, tangannya berwarna merah dan tampak seperti kawat bulu untuk prakarya. Anak yang ingin cara sederhana cukup mengisi seluruh bagian dengan warna merah. Untuk hasil yang lebih rinci, tambahkan garis-garis kecil yang melengkung mengikuti bentuk tangan. Kombinasi merah muda dan merah tua dapat membuat lilitan tersebut tampak lebih tebal.
Arah goresan sebaiknya mengikuti lengkungan tangan. Ketika garis tangan berbelok, goresan warna juga ikut berbelok. Teknik ini mempertahankan kesan bahwa bahan tersebut dipelintir, bukan berupa pita datar. Anak berusia sekitar enam tahun dapat memakai satu warna, sedangkan anak yang lebih besar dapat menambahkan bayangan dan serat kecil.
Kaki Forky terlihat seperti potongan stik kayu. Warna krem, cokelat muda, atau warna madu cocok digunakan pada bagian ini. Beberapa garis tipis yang ditarik memanjang dapat menyerupai serat kayu. Tidak perlu membuat terlalu banyak garis karena tiga atau empat tanda yang tidak sama panjang sudah cukup untuk menunjukkan perbedaan antara kayu dan plastik.
Bagian dasar yang menghubungkan tubuh dengan kaki dapat dibiarkan putih. Berikan sedikit abu-abu pada tepi bawah agar bentuknya tetap terlihat. Apabila gambar menampilkan stiker pelangi kecil pada salah satu kaki, gunakan pensil warna yang sudah diraut agar setiap pita warna dapat diisi dengan rapi. Salinan kedua boleh diberi stiker buatan sendiri, seperti bintang, awan, bola, bunga, atau huruf pertama nama anak.
Stiker baru itu merupakan tambahan imajinatif untuk kegiatan ini. Anak bebas membuatnya, tetapi hasilnya tidak perlu dianggap sebagai bagian baru dari cerita resmi Toy Story. Pemisahan ini membuat anak dapat berkreasi tanpa mencampurkan cerita buatan sendiri dengan kejadian dari film.
Forky pertama kali hadir dalam Toy Story 4 sebagai hasil prakarya yang dibuat Bonnie di taman kanak-kanak. Karena berasal dari benda-benda yang sebelumnya dianggap sampah, ia merasa dirinya bukan mainan dan ingin kembali ke tempat sampah. Woody kemudian berusaha membantu Forky memahami bahwa Bonnie telah memberinya arti baru sebagai mainan miliknya.
Kisah tersebut dapat menjadi awal untuk kegiatan menggambar di sekitar Forky. Anak bisa menambahkan tiga benda yang biasa ditemukan di meja belajar, seperti rautan, penghapus, dan potongan kertas. Salah satu benda kemudian diberi mata dan nama baru. Semuanya cukup digambar di atas kertas, sehingga kegiatan tidak memerlukan kawat, plastik kecil, atau benda bekas yang mungkin kotor.
Sebuah penghapus dapat berubah menjadi tokoh yang mengira dirinya bantal. Kotak kecil dapat diberi roda dan disebut mobil penyimpan pensil. Tutup botol yang digambar di atas kepala tokoh baru bisa menjadi topi. Setelah tokoh itu selesai, anak dapat menulis satu kalimat tentang kepribadiannya atau pertanyaan yang selalu ia ajukan.
Kegemaran Forky dalam bertanya juga muncul dalam seri film pendek Forky Asks a Question. Pada Disney+ Indonesia, episode-episodenya memakai judul seperti Forky Bertanya: Apa itu Teman?, Apa itu Seni?, Apa itu Waktu?, Apa itu Cinta?, Apa itu Keju?, dan Apa itu Membaca?.
Anak dapat menggambar balon percakapan besar di dekat kepala Forky, lalu menulis pertanyaan sendiri. Forky mungkin bertanya, “Mengapa penghapus semakin kecil?”, “Apa yang dilakukan tas sekolah saat libur?”, atau “Ke mana satu kaus kaki pergi ketika pasangannya masih ada?” Pertanyaan tersebut dibuat khusus untuk kegiatan menggambar dan bukan kutipan dari film.
Anak yang belum lancar menulis dapat mengucapkan pertanyaannya kepada orang tua atau guru. Orang dewasa menuliskan kalimat itu, lalu anak boleh mewarnai huruf atau balon percakapannya. Anak yang lebih besar dapat merancang ukuran tulisan menggunakan pensil terlebih dahulu. Jika pertanyaannya panjang, gunakan dua balon agar kata-katanya tetap mudah dibaca.
Pertanyaan yang dipilih dapat menentukan latar gambar. Jika Forky penasaran mengapa pensil menjadi pendek, tambahkan rautan dan serutan pensil. Jika ia bertanya tentang hujan, gambarlah awan, tetes air, dan genangan. Jika pertanyaannya tentang buku, sebuah rak kecil atau tumpukan buku cerita dapat ditempatkan di belakangnya.
Suasana yang dekat dengan anak-anak Indonesia juga bisa digunakan. Forky dapat berdiri di dekat jendela saat hujan sore, di atas meja dengan buku tulis dan tempat pensil, atau di samping tas sekolah yang terbuka. Anak tidak perlu memenuhi seluruh kertas. Dua atau tiga benda besar sudah cukup untuk membuat latar dapat dikenali sekaligus menjaga tubuh putih Forky tetap terlihat jelas.
Bagi anak yang suka menggambar dunia khayalan, alat tulis dapat diubah menjadi kota raksasa. Penggaris menjadi jembatan, penghapus berubah menjadi batu, dan pensil warna berdiri seperti gedung tinggi. Forky berada di tengah-tengahnya sambil bertanya mengapa semua benda mendadak menjadi sangat besar. Adegan tersebut sepenuhnya berasal dari imajinasi anak.
Mulailah latar dengan bentuk yang paling besar. Gambar tempat pensil, buku, atau penggaris terlebih dahulu. Setelah itu, tambahkan detail seperti pola pada sampul, serutan pensil, atau garis lantai. Cara ini membantu agar latar tidak terlalu ramai dan Forky tetap menjadi pusat gambar.
Dua hasil cetak juga dapat digunakan untuk membandingkan gaya warna. Lembar pertama mengikuti warna yang biasa dikenali pada Forky, yaitu tubuh putih, tangan dan alis merah, mulut biru, serta pipi merah muda. Lembar kedua dapat memakai tema bebas yang dipilih anak.
Forky bertema luar angkasa dapat memiliki tangan ungu, gambar bintang pada tubuhnya, dan stiker planet di kakinya. Forky bertema laut bisa dihiasi gelembung, ombak, dan ikan kecil. Untuk suasana Indonesia, anak dapat menambahkan pola layang-layang, motif awan, atau bentuk sederhana yang terinspirasi dari hiasan di kelas. Semua variasi itu merupakan kreasi bebas, bukan kostum resmi dari film.
Satu permainan lain hanya membutuhkan beberapa salinan kecil. Buat empat wajah Forky dengan emosi berbeda, seperti senang, bingung, terkejut, dan berpikir keras. Ubah pupil, alis, dan mulut pada setiap gambar. Setelah semuanya selesai, anggota keluarga atau teman sekelas dapat menebak perasaan yang ditunjukkan.
Kegiatan semacam ini juga cocok dilakukan bersama anak dengan usia berbeda. Anak yang lebih kecil mengisi bidang warna yang jelas, sedangkan anak yang lebih besar mengerjakan tekstur, bayangan, tulisan, dan latar. Mereka memakai gambar yang sama, tetapi tidak harus menyelesaikan tugas dengan tingkat kesulitan yang sama.
Di kelas, guru dapat membagi kegiatan menjadi beberapa kelompok. Kelompok pertama membuat ekspresi, kelompok kedua menulis pertanyaan, dan kelompok ketiga menggambar tempat Forky berada. Saat semua karya dipajang, hasilnya tidak tampak seperti deretan gambar yang sama. Setiap Forky memiliki cerita, suasana, dan pertanyaan yang berbeda.
Anak tidak perlu membandingkan siapa yang paling rapi. Lebih menarik jika mereka bercerita mengapa mata Forky mengarah ke suatu tempat, mengapa latarnya berupa suasana hujan, atau mengapa warna tangannya diubah. Cerita di balik gambar memberi nilai pada pilihan kreatif yang dibuat anak.
Di rumah, halaman mewarnai ini dapat menjadi permainan untuk dua orang. Satu orang menentukan arah mata, sedangkan yang lain memilih bentuk mulut. Setelah itu, keduanya menebak apa yang sedang dipikirkan Forky. Pada salinan berikutnya, peran ditukar. Kegiatan tersebut cukup menggunakan hasil cetak dan alat warna yang tersedia.
Dalam Toy Story 5, profil resmi Pixar menunjukkan perubahan besar pada Forky. Ia kini senang menjadi mainan dan akan menikah dengan Karen Beverly, mainan yang dibuat dari pisau plastik. Forky juga mengajarkan Karen tentang hal-hal yang telah ia pelajari mengenai sampah, kehidupan, dan menjadi mainan. Pixar menyebutkan bahwa Bonnie sesekali perlu memperbaikinya kembali dengan keterampilan prakarya.
Informasi itu dapat menginspirasi bingkai perayaan di sekeliling gambar, tetapi anak tidak perlu menebak atau menyalin seperti apa adegan pernikahannya dalam film. Hati dari kertas yang digambar, pita, bunga, titik warna, atau bentuk confetti sudah cukup untuk mengubah halaman menjadi kartu ucapan buatan sendiri.
Gagasan tentang perbaikan Forky juga dapat digunakan pada salinan berikutnya. Anak boleh menggambar tambalan kertas, stiker baru, atau pita berwarna yang seolah-olah memperkuat salah satu tangannya. Setelah itu, tulislah satu kalimat yang menjelaskan kejadian buatan sendiri, misalnya Forky terjatuh ke dalam tas atau terselip di antara buku. Cerita tersebut merupakan permainan, bukan adegan resmi.
Pensil warna, krayon, dan spidol sudah cukup untuk menyelesaikan gambar. Pensil warna cocok untuk bagian kecil dan bayangan. Krayon lebih cepat digunakan pada tangan dan pipi. Spidol membuat warna merah dan biru terlihat kuat. Anak yang ingin melukis dapat memakai cat air atau cat poster pada kertas yang lebih tebal, dengan jumlah air yang tidak terlalu banyak.
Forky merupakan tokoh yang nyaman untuk anak yang khawatir membuat kesalahan. Kedua matanya memang tidak sejajar, tangannya melengkung dengan bentuk berbeda, dan mulutnya terlihat dibuat dengan tangan. Sedikit warna yang keluar dari garis tidak langsung merusak gambar. Bekas itu bahkan dapat terlihat seperti bagian lain dari prakarya Bonnie.
Setelah gambar selesai, beberapa bagian sederhana sudah cukup untuk membuat Forky langsung dikenali. Tubuh spork putih, dua mata yang berbeda, alis merah, mulut biru, pipi merah muda, serta tangan yang meliuk membentuk tokoh yang penuh rasa ingin tahu. Cukup pindahkan satu pupil sedikit ke samping, dan Forky tampak siap mengajukan pertanyaan baru tentang benda yang baru saja dilihatnya di atas meja.

Pada usia lima tahun, Gustavo mengubah keinginannya untuk mencetak gambar mewarnai menjadi sebuah ide yang kini menginspirasi anak-anak di lebih dari 150 negara.
Begitulah Imprimivel.com lahir, sebuah proyek yang ia bangun bersama ayahnya, Jean Bernardo, untuk menyebarkan warna, imajinasi, dan keceriaan dalam 10 bahasa, mencapai lebih dari 800 juta anak di seluruh dunia.
Saat ini, Gustavo membantu memilih konten, dengan penuh semangat menentukan tema dan karakter yang dapat membuat anak-anak lain tersenyum, sementara sang ayah mengawasi proses editorial dan mewujudkan ide-ide kecil sang putra menjadi nyata.
